NASIONAL

Featured Video

Games

daerah

Fashion

pendidikan

NASIONAL

Fun & Fashion

International

Latest Updates

Tampilkan postingan dengan label internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label internasional. Tampilkan semua postingan

Awal Mula Dibangunan Masjid Islamic Center Washington.

00.18
Masjid Islamic Center Washington DC.
Kopiinstitue.com - Islam menjadi isu utama di Amerika Serikat (AS) pasca tragedi 11 September 2001. Dunia tak pernah sama lagi setelah peristiwa itu. Islam dan umatnya menjadi sorotan di berbagai belahan bumi. Berbagai perlakuan dan tindakan tak nyaman mendera Muslim yang tinggal di AS dan negara negara Barat lainnya. 

Sejarah mencatat, hanya beberapa hari setelah peristiwa itu, tepatnya 17 September 2001, Presiden AS kala itu, George Walker Bush, memilih Masjid Islamic Center Washington DC untuk menyampaikan pidatonya. 

Dalam pidato itu, Presiden Bush menegaskan bahwa Muslim AS adalah bagian dari AS dan mereka berhak mendapat perlakuan yang sama dan setara dengan warga AS lainnya.

Bertahun-tahun sebelumnya, yakni Maret 1977, sejarah kelam pernah terjadi di masjid ini. Dalam peristiwa yang dikenal sebagai “1977 Hanafi Siege” itu, tiga orang bersenjata menyerbu ke dalam masjid dan menyandera 11 orang.

Tiga orang tersebut merupakan bagian dari kelompok Hamaas Abdul Khaalis yang mengajukan beberapa tuntutan kepada Pemerintah AS. Penyanderaan berakhir setelah tiga orang duta besar negara Islam melakukan perundingan dengan kelompok tersebut.

Bertahun-tahun sebelumnya, tepatnya Mei 1956, Presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno mengunjungi sekaligus shalat di masjid ini. Kala itu Soekarno sedang dalam kunjungan kenegaraan selama 19 hari ke AS atas undangan Presiden AS, David Dwight Eisenhower. 

Meski telah dikunjungi seorang kepala negara, sejatinya saat itu Masjid Islamic Center Washington DC belum selesai dibangun dan baru diresmikan setahun kemudian.

Gagasan untuk membangun masjid ini muncul setelah Dubes Turki untuk AS Mehmet Munir Ertegun wafat pada 11 November 1944 dan tak ada satu pun masjid di Wa shington DC untuk keperluan pelaksanaan shalat jenazah. Berangkat dari keprihatinan itu maka Dubes Mesir untuk AS kala itu Mahmud Hasan Pasha, meminta seorang peng usaha Muslim Amerika yang dikenal sebagai kontraktor sukses, AJ Howar, untuk membangun masjid.(
REPUBLIKA.CO.ID/KOPIINSTITUE.COM)

Interpol Rilis Red Notice untuk 4 WN Korut Terkait Kasus Jong-Nam

07.14
Ilustrasi
Kuala Lumpur - Interpol telah merilis red notice untuk empat warga Korea Utara (Korut) yang diduga terlibat pembunuhan Kim Jong-Nam, kakak tiri pemimpin Korut Kim Jong-Un. Keempatnya diyakini telah kembali ke Pyongyang, Korut sejak akhir Februari lalu. 

"Kami telah mendapatkan red notice untuk empat pria Korea Utara yang ada di bandara saat kejadian," ujar Inspektur Jenderal Polisi Khalid Abu Bakar kepada wartawan, seperti dilansir media lokal Malaysia, The Star, Detik.com Kamis (16/3/2017).

Red Notice adalah sebuah permintaan untuk mencari keberadaan dan menangkap seseorang, yang kemudian akan diekstradisi. Ketika Interpol merilis Red Notice, ini berarti Interpol memberitahu seluruh negara anggota bahwa seseorang sedang dicari, dengan didasarkan surat perintah penangkapan atau putusan pengadilan yang dirilis negara yang mengajukan Red Notice

Dalam situs resminya, Interpol menyebut Red Notice bukanlah surat perintah penangkapan internasional. Interpol menegaskan, pihaknya tidak merilis surat perintah penangkapan. Interpol merupakan kependekan dari Organisasi Polisi Kriminal Internasional, juga disingkat sebagai ICPO.

"Kami meyakini mereka telah kabur ke Pyongyang. Kami berharap bisa mendapatkan mereka lewat Interpol," kata Khalid soal empat warga Korut itu. 

Khalid tidak menyebut lebih lanjut identitas empat warga Korut yang dimaksud. Namun The Star mengidentifikasi keempatnya sebagai Rhi Ji-Hyon (33), Hong Song-Hac (34), O Jong-Gil (55) dan Ri Jae-Nam (57).

Keempatnya diketahui masuk ke Malaysia secara terpisah, sekitar beberapa hari sebelum Jong-Nam tewas pada 13 Februari. Pada hari yang sama saat Jong-Nam tewas, keempat warga Korut ini terekam CCTV Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) yang menjadi lokasi pembunuhan Jong-Nam. 

Pada hari itu juga, mereka kabur dari Malaysia. Empat warga Korut ini diyakini otoritas Malaysia, telah kabur ke Pyongyang via Jakarta kemudian lanjut ke Dubai, Uni Emirat Arab dan Vladivostok, Rusia.

Selain empat warga Korut yang telah kabur itu, Malaysia juga masih memburu tiga warga Korut lainnya yang juga diduga terlibat kasus ini. Ketiganya diidentifikasi sebagai Hyon Kwang-Song (44) yang merupakan diplomat senior Korut di Kuala Lumpur, Kim Uk-Il (37) yang merupakan staf maskapai Korut Air Koryo, dan Ri Ji-U (30) alias James yang tidak diketahui latar belakangnya.

Kepolisian Malaysia meyakini Jong-Nam (46) tewas diserang racun VX, yang oleh PBB dikategorikan sebagai senjata pemusnah massal. Dua terdakwa wanita dalam kasus ini -- Siti Aisyah (25) dan Doan Thi Huong (28) -- telah dijerat dakwaan pembunuhan dan terancam hukuman mati. Persidangan Aisyah asal Indonesia dan Doan asal Vietnam tersebut akan kembali digelar pada 13 April mendatang. 

Kekeringan Parah Melanda Somalia

06.57

Ilustrasi Kekeringan di Somalia
Somalia, KI - Somalia  dikenal negeri perompak kini dilanda kekeringan dan kelaparan parah. Bahkan dalam 48 jam, sudah 110 orang tewas akibat bencana kekeringan tersebut. Pemerintah Somalia juga telah menetapkannya sebagai bencana nasional dan sangat mengaharapkan bantuan dari internasional.
Presiden Somalia, Mohammed Abdullahi Mohammed secara terbuka meminta ukuran tangan internasional untuk membantu Somalia dari bencana kekeringan parah dan kelaparan pada selasa (28/02/2017).
Saat ini telah tercatat sebanyak 110 warga Somalia bagian selatan tewas akibat kelaparan serta kekurangan air akibat keringnya tanah mereka. 
"Ini adalah situasi yang sulit bagi penggembala dan ternak mereka. Beberapa orang telah terkena bencana kelaparan dan diare pada saat yang sama. Dalam 48 jam terakhir 110 orang meninggal karena kelaparan dan diare di wilayah Bay," ungkap Perdana Menteri Hassan Ali Khaire di kantornya.
Bay sendiri merupakan wilayah administrasi di Somalia selatan dengan terdapat empat kota. Kekeringan juga menyebabkan penyakit akut lainnya seperti diare, kolera dan campak.
Pejabat setempat menyebut, wabah kolera telah menewaskan sedikitnya 69 orang sejak Jumat (3/2/2017). Lebih dari 70 orang lainnya dirawat di rumah sakit dan banyak yang bermigrasi ke Mogadishu, ibukota Somalia.
Bayang-bayang kekeringan besar yang pernah melanda tahun 2011 membuntuti. Kala itu, antara bulan Juli 2011 hingga pertengahan 2012 wilayah Tanduk Afrika yang meliputi Djibuoti, Ethiopia, Somalia dan Eriterea dilanda kekeringan hebat. Karena lamanya musim kemarau hingga tidak menyisakan air di tanah, banyak korban tewas berjatuhan. 
Somalia menjadi daerah yang paling merah dari kekeringan dan kelaparan atau dikenal dengan istilah famine akibat cuaca El Nino. Laporan dari Famine Early Warning System Network mencatat, sekitar 260.000 orang Somalia tewas karena kelaparan.
Dalam bencana kekeringan dan kelaparan yang diklaim terburuk dalam 60 tahun terakhir itu, banyak pengungsi dari Somalia selatan melarikan diri ke negara tetangga seperti Kenya dan Ethiopia.
Kondisi yang tidak sehat karena padat dan kumuh ini dibarengi dengan gizi buruk dan berujung pada kematian di kamp-kamp pengungsian.

AS Siapkan Paket Senjata Yang Lebih Besar Untuk Taiwan

06.46
ILUSTRASI
AMERIKA SERIKAT - Pemerintah Amerika Serikat di bawah Donald Trump menyiapkan paket senjata yang lebih besar untuk Taiwan. Paket itu mencakup sistem roket canggih dan rudal anti-kapal. Dengan begitu, Taiwan akan memiliki kekuatan militer yang ideal untuk menghadapi ancaman agresi China.

Paket senjata yang baru secara signifikan lebih besar dari yang pernah ditawarkan pemerintahan Presiden Obama. Demikian informasi yang dilansir Reuters. Informasi ini diungkapkan pejabat AS yang identitasnya dirahasiakan, mengingat penawaran paket senjata itu belum diumumkan secara resmi.

"Ada keinginan politik untuk melakukan penjualan besar," ungkap pejabat itu.

Sumber tersebut menambahkan bahwa pembahasan internal dimulai dengan komitmen yang jauh lebih kuat, jauh lebih signifikan daripada yang dilakukan dengan pemerintahan Obama di masa lalu.

Pemerintahan Donald Trump disebut sangat bersemangat untuk melanjutkan penjualan senjata ke Taiwan. Namun, Gedung Putih akan butuh waktu cukup lama untuk mengatasi hambatan, termasuk kekhawatiran bahwa Beijing akan sangat marah atas langkah tersebut. Di sisi lain, AS juga masih memiliki prioritas kerjasama dengan China untuk "mengekang" Korea Utara.

Yang menarik, kabar ini tersiar saat Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, akan mengunjungi China pada Sabtu ini. Misi Tillerson adalah mendapatkan dukungan lebih kuat dari China untuk mengisolir Korea Utara, dan memantapkan rencana pertemuan pertama antara Trump dan Presiden China Xi Jinping yang diperkirakan berlangsung bulan depan.

Pada bulan Desember 2016, pemerintahan Presiden Barack Obama menghentikan kesepakatan transaksi senjata bernilai US$ 1 miliar dengan Taiwan. Ned Harga, jurubicara Dewan Keamanan Nasional di bawah Obama, mengatakan, pemerintahan Obama menunda paket "yang relatif sederhana" untuk Taiwan dan akan membiarkan pemerintahan baru untuk membuat keputusan.

Sumber di internal kabinet Trump mengatakan bahwa penawaran baru yang sedang dipertimbangkan akan berada di atas angka US$ 1 miliar.

Dengan paket senjata dari AS, kemampuan militer Taiwan diperkirakan akan meningkat signifikan. Dengan sistem canggih peluncuran roket, rudal anti-kapal dan teknologi lainnya, memungkinkan militer Taiwan untuk membela diri melawan kekuatan China yang jauh lebih besar.

AS sendiri mengakui Taiwan merupakan bagian dari satu China pada tahun 1979. Hubungan diplomatik dengan China sempat memanas ketika Trump menerima panggilan telepon ucapan selamat dari Taiwan Presiden Tsai Ing-wen pada bulan Desember lalu usai ia memenangkan pemilihan presiden. 

Bahkan, Trump sempat membuka kemungkinan Washington akan menanggalkan pengakuan bahwa Taiwan bagian dari China. Namun, setelah resmi berkantor di Gedung Putih, Trump menegaskan kembali komitmen AS terhadap kebijakan "satu China".

Helikopter Tewaskan 40 Pengungsi di Yaman, Pelakunya Misterius

08.15

Sanaa - 40 pengungsi Somalia tewas ketika kapal yang mereka naiki diserang sebuah helikopter Apache di perairan lepas pantai Yaman. Sejumlah orang dilaporkan hilang dalam insiden yang terjadi pada Kamis (16/3) waktu setempat itu.

Terkait insiden tersebut sampai saat ini belum diketahui pelaku penyerangan di wilayah Hodeidah yang dikuasai pemberontak Houthi tersebut. Seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (18/3/2017), koalisi Arab Saudi yang memerangi pemberontak Houthi di Yaman menyatakan tidak melakukan operasi militer di wilayah tersebut pada Kamis (16/3).

Juru bicara koalisi Saudi, Jenderal Ahmed al-Asseri mengatakan, wilayah Hodeidah hingga saat ini masih berada di bawah kendali pemberontak Houthi, yang menguasai Sanaa pada tahun 2014 dan memaksa pemerintahan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi mundur dari ibukota Yaman tersebut.

Para pengungsi Somalia yang membawa dokumen resmi badan pengungsi PBB, UNHCR tersebut, diserang di dekat Selat Bab al-Mandeb, saat dalam perjalanan dari Yaman menuju Sudan. UNHCR menyatakan, setidaknya 40 pengungsi tewas dalam insiden itu.

Namun Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menyebut korban jiwa sebanyak 33 orang dan 29 orang terluka, dengan beberapa penumpang lainnya belum ditemukan.

"Kami tidak tahu siapa yang melakukannya, namun para korban selamat mengatakan mereka diserang dari kapal lain pada pukul 21.00, kru menggunakan lampu-lampu dan berteriak untuk menunjukkan bahwa ini kapal warga sipil," ujar juru bicara ICRC Iolanda Jaquemet.

"Namun demikian itu tidak berpengaruh apapun dan sebuah helikopter ikut menyerang," imbuhnya.

Intervensi militer koalisi Arab Saudi di Yaman dimulai sejak Maret 2015 lalu. Operasi militer tersebut dilakukan Saudi dan koalisi untuk mendukung pemerintahan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi dalam menghadapi pemberontak Houthi.

Pria Ditembak Mati di Bandara Paris, Nyaris 3 Ribu Orang Dievakuasi

08.11





Paris - Aparat keamanan di Bandara Orly, Paris, Prancis menembak mati seorang pria yang merebut senjata api dari seorang tentara. Nyaris 3 ribu orang dievakuasi dari bandara tersebut dalam insiden itu.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Prancis Pierre-Henry Brandet mengatakan, dua terminal yang ada di bandara tersebut ditutup usai penembakan pada Sabtu sekitar pukul 08.30 waktu setempat. Dikatakannya, hampir 3 ribu orang telah dievakuasi, hanya dari terminal selatan saja, dan mereka yang berada di terminal lainnya telah "diamankan."

"Seorang pria mengambil senjata api dari seorang tentara, kemudian bersembunyi di sebuah toko di bandara sebelum ditembak mati oleh aparat keamanan," terang Brandet seperti dikutip kantor berita AFP, Sabtu (18/3/2017).

Dikatakannya tak ada orang lain yang terluka dalam insiden di bandara terbesar kedua di Paris itu. Disebutkan Brandet, operasi pengamanan tengah berlangsung untuk memastikan apakah pria yang tewas tersebut membawa bahan peledak. Belum diketahui identitas pria yang ditembak mati tersebut.

Atas kejadian ini, seluruh penerbangan dari dan ke Bandara Orly telah ditunda. Insiden ini terjadi di saat Prancis tengah bersiaga menjelang pemilihan presiden yang akan digelar dalam waktu dekat.

Prancis saat ini masih dalam keadaan darurat menyusul serangkaian serangan teror, termasuk pembantaian di Paris pada November 2015 dan serangan truk maut di Nice pada Juli 2016. Kemudian pada pertengahan Februari lalu, seorang warga Mesir melakukan serangan golok di museum Louvre di Paris.

Ledakan Bom di Hilah Tewaskan 47 Orang

05.53
IRAK : Sebuah truk dengan bom yang ditabrakkan oleh pelaku aksi serangan bunuh diri ke kerumunan orang yang memandarti pos pemeriksaan di Kota Hillah, Irak, Minggu (6/3/2016), ternyata menewaskan sedikitnya 47 orang.

Diberitakan, 17 orang tewas dan lusinan lainnya terluka akibat serangan yang terjadi sekitar tengah hari itu. Informasi itu berdasarkan keterangan pejabat kepolisian setempat.

Disebutkan dalam berita itu, di antara para korban tewas ada 11 warga sipil. Sementara sisanya adalah anggota pasukan keamanan. 

Data terbaru datang dari 
Faleh al-Radhi, Kepala Komite Keamanan di Provinsi Babil. "Serangan disasarkan ke sisi utara pos pemeriksaan Hillah," kata dia seperti dikutip Kantor Berita AFP. 
Seorang dokter di RSHilla hospital mencantumkan jumlah korban yang tewas dalam serangan ini mencapai 47 orang. 

Sebanyak 20 orang di antaranya adalah anggota pasukan keamanan. Selain itu, terdapat 72 orang lain yang terluka.  

Kota Hillah berada sekitar 95 kilometer di sebelah selatan Kota Baghdad.

Selama ini, Irak memang menjadi serangan aksi kekerasan. Bulan lalu juga terjadi serangan serupa yang menyebabkan 100 orang tewas.  

Hingga saat ini, belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan itu.

Selama ini, kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), serta kelompok militan Suni kerap menggunakan cara semacam itu dalam melancarkan terornya. 

Mereka melakukan aksi serangan bunuh diri ke areal publik, maupun bangunan milik pemerintah.(n)

Iran and Saudi Arabia Relationship Heats Up

20.55

Teheran : Iran’s top leader on Sunday warned Saudi Arabia of “divine revenge” over the execution of an opposition Shiite cleric while Riyadh accused Tehran of supporting terrorism, escalating a war of words hours after protesters stormed the Saudi Embassy in Tehran.
Saudi Arabia announced the execution of Sheikh Nimr al-Nimr on Saturday along with 46 others, including three other Shiite dissidents and a number of al-Qaida militants. It was largest mass execution carried out by the kingdom in three and a half decades.
Al-Nimr was a central figure in protests by Saudi Arabia’s Shiite minority until his arrest in 2012, and his execution drew condemnation from Shiites across the region.
Iran’s Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei condemned the execution Sunday in a statement on his website, saying al-Nimr “neither invited people to take up arms nor hatched covert plots. The only thing he did was public criticism.” Iran’s powerful Revolutionary Guard said Saudi Arabia’s “medieval act of savagery” in executing the cleric would lead to the “downfall” of the country’s monarchy.
Saudi Arabia’s Foreign Ministry said that by condemning the execution, Iran had “revealed its true face represented in support for terrorism.”
The statement, carried by the official Saudi Press Agency, accused Tehran of “blind sectarianism” and said that “by its defense of terrorist acts” Iran is a “partner in their crimes in the entire region.”
Al-Nimr was convicted of terrorism charges but denied ever advocating violence.
Sunni Saudi Arabia and Shiite Iran are locked in a bitter rivalry, and support opposite sides in the wars in Syria and Yemen. Iran accuses Saudi Arabia of supporting “terrorism” in part because it backs Syrian rebel groups, while Riyadh points to Iran’s support for the Lebanese Hezbollah and other Shiite militant groups in the region.
The Iranian Foreign Ministry has summoned the Saudi envoy in Tehran to protest, while the Saudi Foreign Ministry later said it had summoned Iran’s envoy to the kingdom to protest Iran’s criticism of the execution, saying it represented “blatant interference” in its internal affairs.
In Tehran, the crowd gathered outside the Saudi Embassy early Sunday and chanted anti-Saudi slogans. Some protesters threw stones and Molotov cocktails at the embassy, setting off a fire in part of the building, said the country’s top police official, Gen. Hossein Sajedinia, according to the semiofficial Tasnim news agency. He later said police had removed the protesters from the building and arrested some of them, adding that the situation had been “defused.”
Hours later, Tehran prosecutor Abbas Jafari Dowlatabadi said 40 people had been arrested on suspicion of taking part in the embassy attack and investigators were pursuing other suspects, according to the semi-official ISNA news agency.
Iranian President Hassan Rouhani, while condemning Saudi Arabia’s execution of al-Nimr, also branded those who attacked the Saudi Embassy as “extremists.”
“It is unjustifiable,” he said in a statement.
By 4 p.m., some 400 protesters had gathered in front of the embassy despite a call by the government for them to protest at a square in central Tehran. A sign for the street had been changed to “Sheikh Nimr St.” Tehran authorities could not be immediately reached to discuss the new name.
Protests also took place in Beirut, while those in eastern Saudi Arabia prepared for three days of mourning at a mosque in al-Awamiya. However, the sheikh’s brother, Mohammed al-Nimr, told The Associated Press that Saudi officials told his family that the cleric was already buried in an undisclosed cemetery.
The cleric’s execution could also complicate Saudi Arabia’s relationship with the Shiite-led government in Iraq. The Saudi Embassy in Baghdad is preparing to formally reopen for the first time in nearly 25 years. Already on Saturday there were public calls for Prime Minister Haider al-Abadi to shut the embassy down again.
Al-Abadi tweeted Saturday night that he was “shocked and saddened” by al-Nimr’s execution, adding that “peaceful opposition is a fundamental right. Repression does not last.”
On Sunday, Iraq’s top Shiite cleric, Grand Ayatollah Ali al-Sistani, called al-Nimr a martyr and said his blood and that of other Shiite protesters “was unjustly and aggressively shed.”
Hundreds of al-Nimr’s supporters also protested in his hometown of al-Qatif in eastern Saudi Arabia, in neighboring Bahrain where police fired tear gas and bird shot, and as far away as northern India.
The last time Saudi Arabia carried out a mass execution on this scale was in 1980, when the kingdom executed 63 people convicted over the 1979 seizure of the Grand Mosque in Mecca, Islam’s holiest city. Extremists held the mosque, home to the cube-shaped Kaaba toward which Muslims around the world pray, for two weeks as they demanded the royal family abdicate the throne.
Also Sunday, the BBC reported that one of the 47 executed in Saudi Arabia, Adel al-Dhubaiti, was convicted over a 2004 attack on its journalists in Riyadh. That attack by a gang outside of the home of a suspected al-Qaida militant killed 36-year-old Irish cameraman Simon Cumbers. British reporter Frank Gardner, now the BBC’s security correspondent, was seriously wounded in the attack and paralyzed, but survived.(n)

The Doctor : Saya Akan Bekerja Keras

04.45
Italia : Pebalap Movistar Yamaha MotoGP, Valentino Rossi yakin bahwa tahun 2015 tak akan menjadi peluang terakhirnya dalam meraih gelar dunia ke-10 meski tahun depan ia akan berusia 37 tahun, demikian yang dilansir Autosport.

Rossi yang merupakan pebalap tertua di MotoGP, sukses memuncaki klasemen pebalap sepanjang musim 2015, namun kalah dari Jorge Lorenzo tepat di seri terakhir. Gelar pun melayang dari tangannya, namun The Doctor bertekad kuat untuk membalas dendam tahun depan.

Meski begitu, tantangan yang dihadapi Rossi akan lebih besar pada tahun 2016, mengingat seluruh peserta MotoGP akan berada di bawah aturan penyeragaman perangkat elektronik Magneti Marelli dan peralihan dari ban Bridgestone ke Michelin.

"Jika Anda melihat sejarah manusia, usia 36 dan 37 tak ada perbedaan besar. Jadi saya tidak terlalu cemas. Tahun depan saya bisa melaju dengan ritme yang kurang lebih sama. Tapi semua sangat tergantung pada motivasi, begitu juga kecocokan Yamaha dengan Michelin. Tahun depan akan jadi kisah berbeda, dan saya akan bekerja keras seperti biasa," ujarnya.

Selama berkarir di Grand Prix, Rossi sukses mengumpulkan sembilan gelar dunia, yakni di satu di GP125, satu di GP250, satu di GP500 dan sisanya di MotoGP. Sejauh ini ia telah mengumpulkan 112 kemenangan, hanya tertinggal 10 dari 15 kali juara dunia, Giacomo Agostini. (n)

Steven Gerrad Ungkap Rencana Gantung Sepatu

04.33
Inggris : Mantan Kapten LiverpoolSteven Gerrard membeberkan rencana karirnya pada tahun 2016 ini. Meski belum yakin 100%, Gerrard menyebut bahwa tahun 2016 ini bisa menjadi tahun terakhirnya berkarir sebagai seorang pesepakbola.

Di usianya yang sudah memasuki angka 35 ini, Gerrard menyebut sudah mulai mempertimbangkan untuk mengambil pensiun di akhir tahun 2016 nanti. "Saya belum yakin 100 persen, tapi saya pikir tahun ini mungkin menjadi tahun terakhir saya sebagai seorang pesepakbola" ungkap Gerrard kepada The Telegraph.

Gerrard yang saat ini sedang menikmati libur kompetisi MLS ini mengaku bahwa ia tertarik untuk melanjutkan karir di Liverpool, meski kali ini ia berharap bisa masuk ke dalam jajaran staff pelatih Jurgen Klopp.

"Saya sudah berbicara dengan Klopp. Sampai saat ini belum ada tawaran untuk melatih dari klub, namun mereka berharap saya segera kembali ke sini. Dalam perbincangan tersebut, saya belum diberitahu di mana posisi saya nantinya dalam klub" ungkap Mantan Kapten Liverpool tersebut.

Gerrard sendiri hampir menghabiskan seluruh karir profesionalnya bersama Liverpool. Pada musim panas yang lalu, ia memutuskan untuk hijrah ke Amerika untuk membela klub MLS LA Galaxy.

Mesut Ozil Ternyata Hampir Gabung dengan Liverpool

04.21

Liverpool : Mantan bek Liverpool, Jamie Carragher membeberkan sebuah fakta menarik mengenai Gelandang Arsenal, Mesut Ozil. Carragher menyebut bahwa mantan klubnya hampir saja mendatangkan Ozil pada tahun 2009 andai saja Real Madrid tidak terlebih dahulu menawar sang pemain.

Carragher menyebut bahwa pada tahun 2009 silam ia dan Steven Gerrard sudah melihat potensi Ozil dan sempat menyarankan manajemenThe Reds untuk mendatangkan sang pemain.

"Saya ingat melihat Ozil bersinar saat ia bermain untuk Timnas Jerman U-21 saat mereka mengalahkan Inggris (U-21) dengan skor 4-0. Pada saat itu saya berkata pada Gerrard bahwa Liverpool harus mengejar pemain seperti dia" ungkap Carragher kepada Daily Mail.

Carragher menyebut pada saat itu peluang untuk mendapatkan Ozil cukup terbuka, sebelum Real Madrid mengajukan tawaran yang tidak bisa ditolak oleh klub asalnya, Werder Bremen.

"Pada saat itu ia masih bermain untuk Werder Bremen dan ia sangat bisa untuk didatangkan. Ia melanjutkan performa apiknya di Piala Dunia Afrika Selatan 12 bulan kemudian, dan pada saat itu Real Madrid bergerak cepat untuk mendatangkannya" kenang Carragher.

Musim ini Ozil menjadi buah bibir berkat penampilan spektakulernya bersama The Gunners. Ozil sudah membuat 3 gol dan 16 Assist bagi Tim berbasis London Utara tersebut.
(r)
 
Copyright © Bunk PeNa. Designed by OddThemes & VineThemes